RETORIK.ID, Situbondo – Tokoh muda inspiratif asal Sumenep, Naghfir, kembali menunjukkan konsistensinya dalam memperkuat nilai-nilai spiritual. Bersama rombongan Majelis Rotibul Haddad yang dipimpinnya, ia melakukan sowan ke Pengasuh Pondok Pesantren Sukorejo, Situbondo, Kamis (12/2/2026).
Dalam pertemuan itu, rombongan juga menyambung sanad sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan keilmuan dan adab dalam tradisi pesantren. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan.
Sowan dan penyambungan sanad dipahaminya sebagai bagian penting dalam menjaga mata rantai keilmuan.
“Bukan sekadar seremoni, kegiatan ini meneguhkan hubungan spiritual guru dan murid yang sarat nilai takzim dan keberkahan,” ujar Naghfir.
Dalam agenda tersebut, Naghfir menekankan pentingnya menjaga kesinambungan sanad sebagai bagian dari tanggung jawab moral dalam tradisi keilmuan Islam. Ia menyebut, sanad merupakan mata rantai utama yang menghubungkan ilmu dengan para guru yang telah melalui proses panjang sebelum mewariskannya kepada generasi berikutnya.
“Setiap pertemuan, setiap doa, dan setiap langkah silaturahmi adalah investasi spiritual yang pahalanya terus mengalir,” ungkap Naghfir.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Majelis Rotibul Haddad Naghfir menjadwalkan acara puncak pada 7 April 2026. Kegiatan itu akan digelar di Perumahan Griya Berkah Regency, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep.
Kegiatan itu juga akan menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Sukorejo, KHR Azaim Ibrahimy. Ulama kharismatik tersebut dijadwalkan memberikan tausiyah dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus tasyakuran majelis.
Kehadiran KHR Azaim Ibrahimy diharapkan menjadi momentum untuk mempererat hubungan spiritual, memperkuat nilai saling menghormati, serta meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW.
Naghfir menyebut sowan dan silaturahmi sebagai bagian dari proses pendidikan dalam tradisi Islam. Penggerak Wakaf Berjamaah Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Maqomam Mahmuda di Batuan itu menilai, praktik tersebut berdampak pada penguatan nilai keagamaan dan pembentukan akhlak.
Naghfir mengajak generasi muda pesantren agar tidak memandang sowan dan silaturahmi sebagai ritual semata. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan spiritual dalam menuntut ilmu.
Ia menegaskan, ilmu tidak hanya dipelajari, tetapi juga harus dijaga, dihormati, dan diwariskan sebagai mata rantai keilmuan ulama.
“Saya berharap semua jamaah dan generasi penerus pesantren tidak sekadar hadir dalam majelis atau acara formal, tetapi benar-benar memahami bahwa setiap sowan, setiap salam hormat, dan setiap doa kepada guru adalah investasi spiritual yang akan terus mengalir pahalanya. Inilah cara kita menghargai perjuangan para ulama dan menjaga warisan keilmuan agar tetap hidup dari generasi ke generasi,” tegasnya.
Melalui kegiatan tersebut, Majelis Rotibul Haddad Naghfir menunjukkan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan aliran kehidupan yang menghubungkan ilmu, akhlak, dan ukhuwah Islamiyah dari guru kepada murid, serta dari generasi ke generasi.












