Kota Batu, Peristiwa Gairah Hati Pada Gemini | Cerita Pendek S.A

Bulan Maret sebelum Pemilu digelar, empat pengelana mengawali perjalanan dengan niat dan tujuan yang sama. Mereka kembali pergi ke tempat yang familiar disematkan sebagai kota sejuta kenangan ‘katanya’.

Sebelumnya, empat sejawat ini telah menoreh kenangan alam wisata serta kuliner yang tak terlupakan dari kota Batu (Malang). Namun berbeda dengan kenangan di bulan Maret, wisata dan kuliner tak lagi jadi hal yang krusial, ada yang lebih menggetarkan, yakni ‘Jatuh Gairah’.

Sosok ‘Semesta’ mengalami insiden tersebut, ia jatuh gairah di pandangan pertama pada perempuan bernama ‘Sevia’ tepat pukul 20:02 malam, di sebuah kedai kopi berlabel ‘Vibes Coffee Shop‘ kalau disingkat jadi (VCS).

Semesta‘ merupakan pria kesepian yang sejak tiga tahun lalu diputusin oleh pacarnya. Tidak ada yang tahu bahwa prosesi pemutusannya tragis dan tidak berkepripacaran, tragedi pemutusan itu terjadi di kamar kos Semesta pada jam 11 malam dengan alasanPandemi‘.

Karakter asli ‘Semesta’ bisa dibilang sosialis, ia mudah berbaur dengan siapapun. Bahkan, dirinya tidak sungkan untuk sekedar basa-basi kepada orang yang baru ia kenal. Maklum, semasa di kampus ‘Semesta’ merupakan anak organisasi yang terbiasa berdialog dengan banyak mahasiswa lainnya.

Kebiasaan basa-basi tersebut kebawa hingga ‘Semesta’ lulus. Anehnya, kebiasaan itu punah ketika dihadapan ‘Sevia’ perempuan berhijab biru berparas manis. Semesta mati akal, logikanya kalah mendominasi dari isi hatinya. Semesta kaku dalam berucap, bahasa hatinya terlalu dalam artinya untuk ia terjemahkan.

Sevia merupakan seorang mahasiswi yang berasal dari Bandung, ia lahir tanggal 25 Mei ber-zodiak Gemini, dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Muhammdiyah Malang. Sementara Semesta berasal dari Madura, ia baru lulus kuliah dan berprofesi sebagai jurnalis. Semesta lahir tanggal 08 September, dirinya pemilik zodiak Virgo.

Pertemuan Sevia dengan Semesta tidak melalui perencanaan yang terstruktur. Awal penyebab bertemunya yakni lewat perantara Aurelia yang merupakan pdkt-nya Boy, kebetulan Aurelia satu kos dan satu kampus dengan Sevia.

Melaui inisiatif Boy, Semesta ikut berangkat dari Madura dengan niat berlibur ke Malang. Sesampainya, Boy memberi kabar pada Aurelia. Mendengar Boy berada di Malang, Aurelia pun segera bergegas untuk menemui dan mengajak teman kosnya yaitu Sevia.

Boy, Nadi, Ansur, dan Semesta telah tiga puluh menit duduk di kedai kopi sembari menunggu kedatangan Aurelia. Lima puluh menit kemudian akhirnya Aurelia datang bersama Sevia, basa basi salaman tangan merupakan kebiasaan yang mereka lakukan.

“Hiiii… maaf baru nyampek, diguyur hujan,” ujar Aurelia sambil mengeluarkan kartu uno didalam tasnya. “santai.., mau mesen apa?,” tanya Boy. Sontak Nadi yang meresponnya “es kopi hangat,” barista di kedai kopi itu bingung dengan sedikit garuk kepala, “maaf mas, es kopinya gak bisa hangat,” Nadi pun tertawa dan berkata “maaf juga mas, saya hanya ngelawak, hahaha,” guraunya.

Setelah senda gurau selesai, peristiwa pandangan pertama Semesta pun dimulai, kalimat tanya pertama akhirnya keluar dari mulut pria jomblo selama tiga tahun ini, “Kamu mau minum apa? oh iya lupa, kita belum kenalan, namamu siapa?,” tutur Semesta dengan pandangan yang mengunci mata Sevia. “Aku mau vanilla latte, namaku Sevia mas,” jawabnya ringan.

Selang beberapa menit, Sevia izin ke toilet. Boy berkata “Kurasa ada yang lagi Jatuh cinta, Jatuh bukan sekedar jatuh sih ini, bahkan kejatuhannya menjadi misteri, mungkin kata ‘menetap’ lebih tepat untuk mendefinisikan akhir dari perasaannya yang hinggap,” sindiran Boy kepada Semseta, meski dalam hati Semesta berkata lain “biasa aja sih, ini cuma gairah hati,”.

“Memang benar, cinta adalah hal yang tidak bisa dipelajari apalagi pakai teori, ia datang tak terduga, dalam dan tak terhingga, luasnya tak bisa dijamah, kata-kata tak sanggup untuk mendeskripsikannya, ehhemm,” petuah si Nadi pada Semesta.

Semesta tersenyum saat Boy dan Nadi mengira dirinya jatuh cinta pada Sevia, padahal itu hanya gairah pandangan pertamanya saja. Semesta pernah membaca psikologi cinta yang mengatakan “Jika kamu cinta karena dia mencintaimu, itu bukan cinta, tapi ‘Empati’. Jika kamu cinta karena harta atau uang, itu bukan cinta, tapi ‘Tertarik’. Jika kamu cinta karena penampilannya, itu bukan cinta, tapi ‘Obsesi’. Jika kamu cinta karena kebaikannya, itu juga bukan cinta, tapi ‘Kagum’. Jika kamu cinta pada pandangan pertama, itu dipengaruhi satu hal, yaitu ‘Gairah‘,”.

Lima jam setelah pandangan pertama usai, Semesta dan ketiga koleganya ingin melanjutkan perjalanan. Namun, mereka belum tau kemana akan berlabuh. Mintalah saran kepada Sevia yang hendak mau balik ke kosnya.

Dengan nada suara sedikit ngebas Semesta memangil. “Sevia, kamu mau lanjut kemana?,” tanya Semesta. “Aku ke kos nih,” jawab Sevia menunduk sembari membalas chat dari ibu kos yang ngomel nyuruh dirinya cepat pulang.

“Jangan,” pinta Semesta melarang Sevia balik kos. “Loh kok jangan?,” tanya Sevia dengan senyuman tipis. “aku gak bisa nafas nih,” tegas Semesta. “Kok bisa, maksudnya apaan? hahaha ada-ada aja kamu ngawur,” respon Sevia ketawa lepas sampai batuk dua kali.

Batuk ketiga kalinya dilengkapi oleh batuk dari si Aurelia, “Ehhhmmm, salting yaa?,” tanyanya kepada Semesta. “Husst diem,” responnya. Seketika handphone Aurelia berbunyi dan ternyata telepon dari ibu kosnya.

“Aku mau minta rekomendasi nih, tempat untuk istirahat malam enaknya dimana ya?,” tanya Semesta. Apartemen suhat mungkin,” jawab Sevia. “Yaudah ayok,” ajak Semesta. “Tunggu, ibu kos nyuruh pulang nih,” sambung Aurelia.

Sevia bingung, di satu sisi ia didesak untuk balik kos, disisi lain ia tidak enak menolak ajakan Semesta. Akhirnya Sevia duduk kembali untuk memikirkan keputusannya.

Perenungan Sevia terbilang cukup lama, Semesta pun bilang “kalau gak bisa jangan dipaksa, aku santai kok,” Sevia jawab “kata siapa gak bisa, ayok berangkat,” Semesta sumringah bukan main, kepala hingga kakinya gemetar mendengar jawaban tersebut.

Diperjalanan menuju apartemen, Sevia bengong dengan tatapan kosong ke arah kaca mobil, ia masih berpikir tentang benar atau salahkah dengan keputusannya ikut Semesta. Sementara Aurelia juga sibuk berpikir, ia sedang mencari alasan untuk ibu kos nantinya.

Pukul 01:50 dini hari sampailah di apartemen suhat, istirahatlah mereka disana dengan kamar terpisah. Arelia tidur dengan Sevia, sementara Boy, Nadi, Ansur, dan Semesta pisah dengan masing-masing satu kamar.

Dalam kamar, Semesta berbaring dengan tatapan mengarah ke jendela, terlihat panorama lampu-lampu kota Malang dengan berjejernya gedung-gedung kampus Universitas Brawijaya. Merasa bosan, ia pun keluar kamar menuju supermarket yang ada didepan apartemen untuk membeli rokok dan minuman bintang.

Hendak beranjak keluar dari supermarket, tiba-tiba Sevia berada didepan Semesta. “Loh, belum tidur tah? ngapain kesini,” tanya Semesta. “Mau beli cemilan nih, laper,” jawab Sevia. “Yaudah ayok cari makan saja,” tawar Semesta. “Males, pengen ngemil aja,” jawabnya.

Meski sudah membeli rokok dan minuman, Semesta dengan suka ria ikut menemani Sevia belanja cemilan, usai bayar di kasir mereka pun pergi, dan setelah membuka pintu keluar, ternyata si Sevia ditunggu oleh seorang cowok diluar supermarket. Entah, Semesta enggan mencari tau identitas si cowok yang menunggu Sevia itu.

Sevia dan si cowok itu pun ngobrol berdua menghiraukan keberadaan Semesta. Merasa ditiadakan, Semesta akhirnya pergi. Tibalah ia di tempat duduk dalam ruang basement apartemen sembari menunggu Sevia, hampir setengah jam akhirnya Sevia datang menghampiri Semesta.

“Loh kok gak ke kamarnya?,” tanya Sevia.

“Enggak, masih mau nunggu matahari,” balas Semesta singkat.

“Beneran mau nunggu matahari? yaudah aku nunggu juga deh,” kata Sevia.

“Gak usah, mending kamu tidur duluan,” bujuknya.

“Marah yaa? kenapa, soal yang cowo tadi?,” tanya Sevia.

“Emang siapa cowo tadi itu?,” balas Semesta tegas.

“Dia FWB.an aku,” ungkap Sevia dengan lirih.

“Haa? kamu suka FWB.an,” ucap Semesta kaget.

“Lah, emangnya kenapa? aku kan Gemini, lagian dalam undang-undang asmara kan gak ada yang melarangnya, kita berdua pun bisa FWB.an kalau kamu mau,” ajak Sevia.

“Jangan bercanda deh, kita udah dewasa, bukan waktunya lagi untuk main-main,”

“Beneran gak mau nih?,” ajakan kedua kalinya.

“Oke deal,” spontan Semesta mau.

Friend With Benefits (FWB) Semesta dengan Sevia pun di tetapkan malam itu juga. Tanda tangan kedua belah pihak sudah diatas kertas. Tanpa panjang lebar Sevia langsung meminta untuk tidur di kamar Semesta, tanpa ragu Semesta menerimanya. Sesampai didalam kamar, Sevia berkata “Sebelum matahari terbit, alangkah sempurnanya kalau lampunya dimatiin,”.

Keesokan hari setelah fajar terbit, Semesta membuka mata dan berkata “kita saat ini sedang menghirup oksigen yang sama,” ucapnya sembari mengusar kening Sevia. “Iyaa, tapi dua jam lagi usai,” kata Sevia. “Loh, emang kamu mau kemana?,” tanya Semesta. FWB.an kita hanya untuk satu malam saja, kalau kamu mau lebih lama, silahkan tanda tangan lagi dan bayar,” tutupnya.

Print Friendly, PDF & Email