Sembuhnya Luka Seorang Januarga

Ilustrasi

Januarga Rizki Pradana punya alasan kenapa dirinya menyukai musik. Pertama, musik identik dengan kekasihnya, Melody. Kekasihnya itu sangat menyukai musik. Suaranya bak Diva Internasional. Itu sih menurut Januarga. Bisa dikatakan seorang Januarga bucin parah saat orang yang ia incar dan idam-idamkan selama ini telah menjadi miliknya. Bahkan ia rela belajar musik agar bisa mengimbangi apa yang disukai oleh Melody.

Namun ia rasa perjuangannya belum usai, saat mendengar kekasihnya menyanyikan sebuah lagu dengan judul “Resah Jadi Luka” di acara Farewell Party kelulusan di sekolahnya kala itu. “Tapi mengapa tibalah tiba seakan kamu pergi. Melepas rangkulanmu dan berhenti melindungiku tanpa sebab.” Itulah lirik yang mempunyai arti mendalam untuk Melody. Hati Januarga terasa sesak, lalu begitu saja ia tertawa miris.

Ciri khas seorang Melody adalah selalu menyanyikan lagu yang sesuai dengan isi hatinya. Dan sudah jelas bahwa Januarga selalu berada disisinya. Orang yang selalu berada di belakang panggung saat Melody perform adalah dirinya, tapi setiap lagu yang ia bawakan saat perform adalah menceritakan tentang dirinya dengan orang lain. Bukan Januarga, melainkan Aksara. Mantannya yang masih mengisi hati perempuan itu. Bahkan ketika orang itu pergi tanpa pernyataan yang jelas, Melody seakan tetap mengharapkannya.

Dulu mimpi Januarga adalah menjadi seorang videografer. Bisa mengabadikan moment bersejarah atau momen-momen kecil lainnya. karena menurutnya, mereka tidak akan pernah kembali pada masa yang lalu kecuali ketika kita mengabadikannya dengan video, dan mengabadikannya dalam satu frame. Namun semenjak mengenal Melody, mimpinya berubah. Ia ingin menjadi seorang gitaris. Yang suatu saat nanti bisa perform berdampingan dengan Melody. Syukur-syukur bisa mengadakan konser dan berdiri bangga diatas panggung dengan menggenggam tangan Melody.

Januarga juga memiliki suara yang bagus. Suara serak serak basah seperti memiliki keunikan yang khas. Tapi Januarga tidak ingin menjadi vokalis. Katanya sih, jika ia dan Melody sama-sama menjadi vokalis, mereka memang bisa berduet. Namun, kesannya pasti ada yang lebih mendominasi dari keduanya. Tapi jika Januarga menjadi gitaris, terlihat saling melengkapi bukan?

Dulu ketika Januarga sedang galau sembari menunggu Melody yang perform dari kafe, ia sering membuat short list. Tujuannya agar membangun atmosfer cerita saat pengambilan video nanti. Namun satu hal yang membuat hobinya dulu berwarna. Ditemani oleh Melody saat tahap editing audio. Apalagi audionya berasal dari Melody yang menyanyikannya khusus untuk video yang Januarga buat. Januarga tak punya alasan untuk tidak mencintai Melody jika begini caranya. Rasanya video yang dibuat oleh Janurga seakan lebih nyata.

Dulu saat ada lomba festival seni musik antar SMA, Januarga dan Melody sama-sama mengikuti ajang tersebut. Dulu mereka sedang berada di bangku kelas 11 SMA. Januarga mengikuti jenis lomba gitaris solo. Sedangkan Melody mengikuti jenis lomba vokalis solo. Januarga mendapat juara 1 dengan membawakan melodi gitar yang tenang dan bertempo seolah membuai juri dan penonton dalam dunia mimpi. Namun berbeda dengan Melody yang waktu itu notabennya sebagai gebetan Januarga. Saat itu mereka berada di tahap pendekatan. Melody harus menelan nasib jika ia tak mendapat juara.

Melody mempunyai karakter suara Sopran. Jenis suara tinggi dan bertenaga. Bahkan diusia yang terbilang muda, Melody bisa menjangkau nada C4 hingga nada G5 yang biasanya dimiliki oleh perempuan dewasa. Namun sangat beresiko jika Melody memaksakan menggunakan suara tinggi padahal saat itu ia dengan kondisi yang kurang bertenaga. Dan, dengan yakin Melody membawakan lagu “Sia-Chandelier”. Alhasil diluar dugaanya, tidak semaksimal yang ia harapkan.

Seakan berada di dunia fiksi, Januarga menghampiri Melody yang tengah menangis tersedu-sedu ditaman. Ia tahu ini adalah pertama kalinya Melody menunjukkan suaranya pada suatu ajang lomba. Janurga juga tahu pasti Melody merasa down. Ia duduk disebelah Melody yang terus menunduk. “Mel, tahu lagunya coboy junior yang, ‘Tak perlu tunggu hebat untuk berani memulai apa yang kau impikan, hanya perlu memulai untuk menjadi hebat raih yang kau impikan”.

Januarga menyanyikan penggalan lirik tersebut dengan gaya menyemangati. Namun hasilnya nihil. Melody tetap menunduk tanpa mendongak sedikitpun. Januarga tersenyum tipis lalu beranjak mendekat. Ia membawa Melody dalam dekapannya lalu berbisik. “Jangan takut untuk mencoba. Mencoba bisa dijadikan ajang unjuk kalau kamu hebat. Kamu bisa berani maju tanpa takut ada batu besar yang menghalangi kamu didepan. Perihal menang dan kalah hanyalah sebuah apresiasi berupa pengakuan. Tapi sebenarnya, tanpa kamu butuh pengakuan. Ada aku yang selalu siap berada di depan untuk mengaku jika kamulah yang paling hebat. Semangat Mel.”

Semenjak kejadian itu, mereka semakin dekat sampai jadian hingga saat ini. Januarga bersyukur dari festival musik ini, cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Awalnya Januargapun hanya iseng-iseng belajar gitar. Belajarnya pun secara otodidak. Karena dulu ia tidak ingin mendalami perihal musik. Tapi setelah memasuki hal yang Melody sukai, musik menjadi salah satu hal yang ia impikan juga.

Reast in peace, Januarga.. mungkin adalah kalimat paling menyakitkan yang pernah terurai. Baik dari keluarga, sahabat, bahkan Melody sekalipun. Hatinya memberat saat liang lahat mulai ditutup tanah. Bunga-bunga ditaburkan diiringi tangis sebagai simphony yang terdengar menyesakkan dada. Segunduk tanah bertulis nama Januarga Rizki Pradana terpampang jelas menandakan jika Januarga berpulang pergi dan tak akan kembali ke dunia.

Hidup itu perihal mengatur nafsu melalui mata dan pikiran. Apa yang mengganggu mata, ya nggak usah diliat. Dan apa yang menggangu pikiran, yang nggak usah dipikirin.

Bagaimana ia bisa melakukan itu disaat orang yang pergi adalah orang yang selama ini selalu menemaninya. Walaupun kenangan indah itu baru ia rangkai baru beberapa hari terakhir. Karena sebelumnya Melody hanya melihat Januarga sebagai pelarian hidup dari Aksara semata.

Disaat Januarga memberinya perhatian, Melody memberinya luka. Disaat Januarga memberinya kasih sayang, Melody memberinya kecewa. Disaat Januarga rela belajar apa yang Melody sukai, Melody hanya menatapnya tanpa penuh rasa. Disaat Januarga berjuang untuk mendapatkan hati Melody seutuhnya, Melody berjuang untuk masa lalunya. Ya, selama ini Januarga berjuang seorang diri. Dan Melody menyesal. Tak akan mendapatkan peluk hangat khas seorang Januarga. Januarga mempunyai cara tersendiri untuk Melody. Ia memberikan apa yang tidak Aksara beri padanya.

Bisa dibilang sih Musik itu bahasa perasaan. Apa yang tidak bisa kita katakan, bisa kita ungkapkan melalui musik. Bukan begitu Melody? tanya Januarga tersenyum.

Itu adalah percakapan terakhir yang Melody ingat. Saat terakhir ia bertemu Januarga di acara pentas seni yang kebetulan saat itu Melody akan mengikuti lomba. Lagi-lagi Januarga yang berada disisinya. Namun jika Melody tahu itulah saat terakhir ia bersamanya, Melody akan memeluk Januarga erat seraya berkata, “Jangan pergi. Nada tidak ada apa-apanya tanpa sebuah instrumen. Aku butuh kamu dan akan selalu begitu.”

Namun Tuhan lebih sayang Januarga. Ia tak diizinkan untuk berjuang sendiri. Melody memejamkan matanya dengan air mata yang tak lagi terbendung diiringi teriakan orang-orang yang memekikkan namanya tak kalah histeris.

Melody menatap nisan didepannya dengan pandangan putus asa dan dengan tatapan kosong. Ia berharap ini adalah mimpi buruk semata. Melody menampar pipinya sendiri dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang terdengar mengilukan. Ia meringis dan sedetik kemudian tangisnya kian hebat diiringi tawanya.

Wajahnya kembali datar. Bukan mimpi. Dan ia baru saja disadarkan oleh realita menyakitkan akibat hati yang selama ini telah menyia-nyiakan perasaan seorang Januarga.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *